Dibalik kesuksesan transmigrasi yang digaungkan, ternyata masih menyimpan banyak masalah. Transmigrasi memang terbukti mampu memeratakan persebaran penduduk, membangun pusat-pusat keramaian baru, dan menggerakkan ekonomi daerah sekitar. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Nyatanya banyak anak-anak para transmigran yang merantau kembali ke pulau Jawa. Entah untuk menempuh pendidikan ataupun sekedar mendapat penghidupan yang lebih baik.

Mengapa fenomena ini bisa terjadi? Apakah dengan kembalinya anak-anak ke pulau Jawa menandakan transmigrasi sudah gagal? 

Mari kita kupas lebih dalam?

migration

transmigrasi di Indonesia

Keberhasilan Transmigrasi

Dalam angka, transmigrasi yang diselenggarakan pemerintah di periode 1970 hingga 1980 an terbukti berhasil, Kepadatan penduduk di pulau Jawa berkurang, dan di daerah tujuan transmigrasi mulai terisi. Transmigran pun berhasil membangun kehidupan baru dengan membuka lahan dan bercocok tanam. 

Lambat laun keberadaan mereka pun memberi dampak ekonomi bagi lingkungan sekitar. Banyak warung-warung kecil yang buka, toko grosir, hingga toko perabot di wilayah transmigrasi. Pemerintah pun menyambut geliat ekonomi ini dengan membangun jalan, instalasi listrik, dan hingga sekolah-sekolah. 

Geliat ekonomi pun makin meningkat dengan adanya industri pengolahan hasil kebun, seperti sawit dan karet. Sebagian transmigran menjadi buruh kebun di tempat tersebut, bahkan ada yang menjadi pengelola bahkan pemilik. 

Kondisi ini harusnya mendorong makin lengkapnya fasilitas untuk masyarakat. Harapannya, karena taraf hidupnya meningkat, kebutuhannya pun makin beragam. Dengan demikian, para transmigran dan keluarganya nyaman tinggal di daerah tujuan, sehingga daerah tersebut makin ramai. 

Faktanya, hal itu tidak terjadi. Meski ada perbaikan ekonomi dan mendapat lapangan kerja, para transmigran masih merasa bahwa fasilitas dan kemudahan hidup di pulau Jawa jauh lebih baik. Peluang pekerjaan juga jauh lebih banyak. Pundi-pundi kekayaan pun lebih mudah terkumpul di pulau Jawa, dan Jabodetabek pada khususnya. 

Hal ini dibuktikan dengan adanya fenomena anak perantau yang pergi ke pulau Jawa untuk mengenyam pendidikan yang lebih baik, dan pekerjaan yang lebih layak. 

Pesona Pulau Jawa Gemerlap Ibukota

Tersedianya fasilitas pendidikan yang lengkap berbanding lurus dengan kualitas pendidikannya. Begitu juga dengan lapangan kerja, dengan banyaknya penduduk dan pusat roda perekonomian nasional, Jakarta dan sekitarnya, serta pulau Jawa pada umumnya, tentu peluang pekerjaan makin luas. 

Daya tarik ekonomi pulau Jawa ini juga didukung dengan kurangnya pembangunan di daerah-daerah transmigrasi. Khususnya yang ada di pelosok, seperti Muara Enim ataupun Kabupaten Tulang Bawang. Jalan-jalan masih banyak yang belum kayak, lokasi sulit dijangkau, hingga fasilitas pendidikan yang masih jauh secara kuantitas maupun kualitas. Daerah-daerah transmigrasi yang benar-benar tersentuh pembangunan hanya kota-kota tertentu seperti Metro dan Bandar Lampung. 

Alhasil, minimnya pembangunan di wilayah transmigrasi menjadi faktor pendorong para anak transmigran untuk kembali ke pulau Jawa, Ditambah dengan gemerlapnya Jawa dan Ibukota menjadi faktor penarik. Sebuah kombinasi yang beralasan untuk pindah ke pulau Jawa. 

Transmigrasi Jangka Pendek, Kegagalan Pembangunan di Daerah Transmigran

Kembalinya anak para transmigran ke pulau Jawa merupakan pertanda bahwa yang selama ini terjadi dan dianggap berhasil hanya transmigrasi jangka pendek. Transmigrasi tidak turun ke generasi selanjutnya. Anak transmigran atau bahkan transmigran sendiri masih melihat pulau Jawa masih menjanjikan banyak harapan. Infrastruktur yang lebih bagus, fasilitas pendidikan berkualitas, hingga kesempatan kerja yang lebih luas merupakan magnet ekonomi yang tidak bisa dianggap remeh. 

Meski bagus secara statistik khususnya angka pemerataan, pemerintah terbukti tidak pernah benar-benar membangun daerah transmigrasi. Transmigran dan anak-anaknya menganggap pembangunan hanya terpusat di Jawa. Di luar itu pembangunan terasa lamban dan masih banyak daerah-daerah terpencil yang sulit dijangkau

Anak-anak transmigran masih merasa tinggal di wilayah terpencil, sulit diakses, dan jauh dari nyaman. Mereka memimpikan hidup di perkotaan dimana semuanya mudah diakses. Aspirasi hidup nyaman dan kemudahan mencari pekerjaan hanya ada di pulau Jawa.

Kondisi yang sangat berkebalikan dengan daerah transmigran, tempat mereka dilahirkan. Aspirasi hidup nyaman yang mereka punya adalah hal yang alamiah, manusia akan selalu mencari tempat yang lebih nyaman, bukan? 

Apa yang Harus Dilakukan? 

Jika fenomena kembalinya anak para transmigran ke pulau Jawa tidak dibendung, maka daerah transmigrasi akan kembali sepi. Pembangunan yang meski belum maksimal justru akan terhenti karena masyarakat transmigran kembali ke pulau Jawa. Perekonomian juga akan makin melambat. Oleh karena itu, diperlukan upaya strategis dari pemerintah agar daerah transmigran makin berkembang, perekonomian bergeliat dan pembangunan terus berjalan. 

Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan membuat program-program tertentu, entah itu proyek nasional, pemberdayaan masyarakat atau pengiriman guru seperti pada program Indonesia Mengajar. Program tersebut mengharuskan untuk mengirim orang-orang atau pekerja dari Pulau Jawa untuk melaksanakan tugasnya di daerah-daerah transmigran. Tugas tersebut sifatnya sementara, misal untuk 6 bulan atau 1 tahun. Setelah itu mereka bisa kembali, bukan seperti transmigran yang harus menetap di sana. 

Saat para pekerja sudah kembali dan habis masa tugasnya, digantikan oleh pekerja baru di daerah transmigran. Jumlah penduduk yang tinggal di daerah transmigran akan tetap terjaga. Secara otomatis, konsumsi dan pasar di daerah tersebut juga akan terjaga. Dengan cara tersebut, perekonomian di daerah transmigrasi akan tetap bergeliat. Hal ini akan mendorong dibangunnya sarana dan infrastruktur yang lebih layak.

Daerah transmigran yang ramai dan fasilitas lengkap secara otomatis akan menjadi kota. Para transmigran dan anak-anaknya tentu akan makin nyaman. Daerahnya tidak lagi terpencil, infrastrukturnya lengkap, dan mencari penghidupan juga jauh lebih mudah. Aspirasi untuk merantau ke pulau Jawa pun pupus. 

Pemerintah bisa melibatkan sektor swasta untuk melaksanakan proyek-proyek di daerah transmigran. Pekerja yang dikirim pun makin banyak dan tidak membebani APBN. Jika program ini berjalan berkelanjutan, pemerintah tidak perlu lagi menyebarkan orang di berbagai pulau. Sebarkan saja proyek-proyek dan program-program nasional di berbagai daerah transmigran atau daerah lain yang belum tersentuh. Daerah tersebut akan berkembang secara otomatis mengikuti geliat ekonomi yang dipicu oleh banyaknya pekerja.