Sejak Februari 2026, berita konflik AS-Israel vs Iran ternyata masih memenuhi linimasa media sosial, media mainstream, maupun grup-grup WhatsApp kita. Hingga tulisan ini dimuat, perang pun tak kunjung usai. Analisis yang beredar di kalangan pengamat mengatakan bahwa perlawanan Iran tidak akan sampai sejauh ini. Nyatanya, pemerintah Iran hingga hari ini tetap gagah berani, secara ksatria menunggu serangan-serangan lebih lanjut.

Pertanyaannya, apa yang membuat Iran seberani itu? Seberapa kuat sebenarnya negara ini? Bukankah biasanya negara timur tengah, mudah ditaklukkan? Bukankah sebenarnya negara yang diembargo oleh dunia internasional menjadi terbelakang? 

Pasca revolusi 1979, Iran seakan terlahir kembali. Menjadi negara teokrasi yang mengedepankan pendidikan, riset dan pengembangan, serta tetap memprioritaskan kesejahteraan rakyat. 

Indonesia memiliki momentum serupa, meski tidak 100% sama, yakni reformasi 1998. Lepas dari sebuah rezim otoriter, terjadi perubahan fundamental dalam bernegara dan perubahan sosioekonomi. Lantas, apa yang membuat Indonesia dan Iran begitu berbeda? Mengapa kita tidak punya teknologi militer secanggih mereka, mengapa perkembangan dunia riset kita seakan jalan di tempat? 

Kita akan bedah satu persatu. 

Fakta kemampuan Iran hadapi negara raksasa 

Sebenarnya, seberapa kuat kekuatan militer Iran? Setelah saling berbalas mengirim rudal, perang pun bergerak dengan saling mengirim ancaman. Pihak Iran pun, sekali lagi tidak mau tunduk. Melalui juru bicara militernya, Ebrahim Zolfaghari, Iran menantang pasukan darat AS untuk segera datang ke Iran. Mereka tidak sabar untuk melakukan perang darat. Mengejutkan bukan? Apa yang mendasari militer Iran bisa punya keberanian sebesar itu. Berani menantang militer negara adikuasa yang gemar melakukan invasi. 

Keberanian Iran dalam menghadapi gempuran tentara AS tentu tidak didasarkan pada keberanian dan kuatnya mental belaka. Faktanya, pihak Iran mampu mengimbangi serangan rudal AS maupun Israel. Sudah tentu, tantangan untuk menanti serangan darat AS sudah diperhitungkan. 

Terdengar tidak masuk akal memang. Menurut Global Power Index, perbandingan kekuatan militer, AS dan Iran bagaikan bumi dan langit. Mulai dari jumlah pasukan, alutsista, hingga anggaran militer, AS jauh lebih kuat. Lantas, apa yang membuat Iran begitu berani? 

Jika kita lihat dari informasi yang beredar, ternyata Iran banyak menguasai teknologi militer yang efisien. Dengan anggaran hanya sekitar  30.000 – 50.000 USD, Iran mampu menciptakan drone kamikaze yang mampu menghancurkan sasaran pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah. Sementara pihak AS, harus mengeluarkan jutaan dolar untuk drone serupa. Pada akhirnya, perang tidak cuma dimenangkan yang lebih kuat, tapi siapa yang cerdik memaksimalkan sumber daya. 

Drone mahal AS, dibalas dengan drone murah Iran yang efeknya tak kalah mematikan. Tak perlu waktu lama, AS pun kehabisan sumber daya. Mereka mulai merasa khawatir dan bimbang. Jika perang diteruskan, banyak anggaran terbuang, jika diteruskan maka  mereka akan kalah dan harus menanggung beban pihak yang kalah perang. 

Drone-drone kamikaze Iran bukanlah produk yang sempurna dalam semalam. Drone tersebut adalah simbol keberhasilan Iran dalam mengembangkan riset dan teknologi militer selama sekian tahun sejak revolusi. Kemandirian teknologi pertahanan ternyata sangat krusial saat terjadi peperangan. Biaya yang lebih efisien serta kemandirian teknologi menjadi dua faktor kunci kekuatan Iran dalam perang ini. 

Lantas, bagaimana teknologi Iran tetap berkembang meski mereka diembargo? 

Tetap berkembang meski diembargo, kok bisa?

Logikanya, negara yang diembargo biasanya akan terbelakang, miskin, dan jauh dari kata sejahtera. Jangankan untuk mengembangkan teknologi ataupun memperkuat militer, membangun perekonomian pun terdengar mustahil. Keterbatasan akses dan penutupan jalur dagang oleh AS dan sekutunya tentu menutup celah bagi Iran untuk memperoleh pendapatan. Sebuah kajian akademik  berjudul Iran Under Sanctions: Resistance & Resilience Economy”, disebutkan bahwa justru karena embargo, pemerintah Iran menjadikan tekanan embargo sebagai momentum untuk memperkuat struktur ekonomi dalam negeri. Mereka meningkatkan kapasitas industri lokal serta meningkatkan produksi pangan untuk mengurangi ketergantungan. 

Selain memastikan pangan mereka tercukupi secara mandiri, pemerintah Iran juga tak hilang akal dalam mengekspor hasil minyak mereka dengan jalur-jalur non konvensional. Tak cuma minyak, Iran juga melakukan diversifikasi komoditas ekspor yakni pada sektor petrokimia dan dan pertanian. Untuk memperlancar bisnisnya, Iran juga rajin menjalin hubungan bilateral dan regional dengan negara-negara di sekitarnya. Menjaga hubungan baik dengan negara lain tentu punya peran penting untuk menjadi kelancaran ekspor, sehingga nantinya pendapatan Iran tetap optimal. 

Daya tahan Iran yang tetap stabil saat diembargo juga didukung oleh kebijakan ekonomi yang mendorong stabilitas dalam negeri. Pemerintah Iran secara aktif mengelola subsidi bahan pokok, mengontrol harga pasar, dan membatasi impor barang-barang konsumsi. Terdengar seperti kebijakan biasa, yang sering digaungkan juga oleh pemerintah indonesia. Tapi di Iran, hasilnya bisa berbeda. Selain merangsang industri dalam negeri, kebijakan tersebut juga menciptakan pola konsumsi masyarakat yang cenderung lebih hemat dan lebih memilih produk-produk lokal.

Kalau dilihat secara kasat mata, sebenarnya yang dilakukan pemerintah Iran bukanlah luar biasa. Semua kebijakan yang dikeluarkan untuk mengatasi embargo juga sering kita dengar saat kampanye pemilu 5 tahunan. Penguatan produk lokal, peningkatan produksi pangan, menjalin kerja sama strategis dengan negara sahabat, hingga kebijakan subsidi. Semuanya juga sudah, atau setidaknya pernah dijanjikan oleh para politisi di Indonesia.

Lantas, mengapa hasilnya begitu berbeda? Mengapa Iran bisa sangat kuat dalam hal kemandirian ekonomi, sehingga mampu menunjang kemandirian teknologi serta kekuatan militer? 

Revolusi Iran  vs Reformasi 1998. 

Perbedaan format pergantian kekuasaan antara Iran dan Indonesia, tentu sangat mendasar. Revolusi dan reformasi membawa konsekuensi yang berbeda. Revolusi mengharuskan terjadinya perubahan secara mendasar, menyeluruh, masif, dan terstruktur. Pemegang status quo biasanya pasti dimusnahkan, dibunuh, diasingkan, atau yang paling ramah adalah kabur ke luar negeri. Dalam sejarah, revolusi selalu lekat dengan pertumpahan darah, misalnya Revolusi Prancis, Revolusi Bolshevik, hingga Revolusi China. Hampir semuanya memicu pertumpahan darah. 

Pihak pemegang status quo dan para pendukungnya, biasanya dibunuh, hingga diasingkan ataupun kabur ke luar negeri,. Seperti di Iran sendiri, penguasa Iran, Shah Mohammad Reza Pahlavi harus terusir. Revolusinya pun  terjadi; konstitusi pun berubah, dari Monarki Konstitusional menuju Teokrasi. Dari dipimpin raja jadi dipimpin Imam. Ragam aturan, struktur ekonomi, sosial, hingga kebudayaan pun berubah drastis. 

Hal serupa tidak terjadi di Indonesia. Meski sempat ada wacana untuk revolusi pada tahun 1998, opsi tersebut tidak dipilih. Konon, para aktivis menghindari pertumpahan darah yang lebih lanjut. Selain itu, tuntutan-tuntutan mahasiswa saat itu memang tidak ada yang mengarah pada perubahan sistem hingga ke dasarnya. Jadilah, reformasi dipilih jadi takdir politik bangsa Indonesia. 

Sebenarnya, sebagian tuntutan reformasi itu sudah terpenuhi. Beberapa di antaranya adalah pelaksanaan amandemen UUD 1945, hapuskan dwifungsi ABRI, dan laksanakan otonomi daerah seluas-luasnya. Poin mengadili presiden Suharto bersama kroninya sempat berjalan namun terhenti, begitu juga pemberantasan KKN. 

Berhasil tidaknya reformasi bisa jadi memang sangat debatable, tetapi jika kita bandingnya progress kita sebagai bangsa dengan Iran, nampaknya cukup jauh. Jika kita boleh berandai-andai, misalnya kita berada di posisi Iran saat ini, apa iya kita bisa membala serangan AS dan pada akhirnya membuat AS ketar-ketir? Apakah kita punya rudal dan drone sebanyak itu yang diproduksi sendiri? 

Tulisan ini tidak sedang membanding-bandingkan, ataupun menuntut negara untuk meningkatkan kekuatan militer. Namun, keberhasilan Iran dalam menghadapi negara adidaya adalah “cermin” untuk melakukan refleksi. Meski yang kita lihat adalah perang dan peristiwa militer, tetapi kita tidak membahas tentang itu. Yang kita bahas adalah kemandirian sebuah bangsa, kemampuan produksi dalam negeri, hingga kemampuan para pemimpin dalam mengorkestrasi semua potensi dalam negeri. 

Dari segi ekonomi, mungkin Iran bukan contoh terbaik. Tetapi dari segi kemandirian, resilience, dan komitmen dalam memberikan kesejahteraan rakyat, mereka patut kita contoh. Hari ini kita sudah 28 pasca reformasi, namun industri apa saja yang sudah kita kembangkan. Jangankan berkembang, kini kita sudah memasuki era deindustrialisasi. Banyak pabrik tutup, karyawan di PHK, tenaga manusia digantikan AI. 

Berbicara tentang kemandirian, sejauh mana kita mampu memenuhi kebutuhan pangan? Dengan kenaikan dolar yang memasuki angka Rp 17 ribuan saja, harga-harga pangan sudah mulai naik. Banyak sekali komoditas pangan yang impor, misalnya kedelai dan gandum. Memang bukan makanan pokok, tapi kenaikan produk turunannya cukup untuk membuat rakyat menjerit. 

Kesimpulan

Seperti yang sudah disebutkan pada paragraf sebelumnya, sebenarnya kebijakan-kebijakan Iran pasca embargo mirip-mirip dengan janji para politisinya. Persoalannya terletak pada keseriusan para pemimpin dalam menjaga dan mengawal janji-janji tersebut. Kemandirian industri misalnya, proyek mobil nasional.  Ini bukan hal baru, sejak sebelum reformasi pun proyek ini selalu jadi dambaan. Hingga di tahun 2014, mobil karya siswa SMK pun banjir pujian. Tentu sebelum semua tahu bahwa semua itu hanya tipu daya. 

Barangkali persoalannya bukan pada apa kebijakannya, tapi bagaimana standar moral pejabat kita. Sejauh mana komitmennya pada kebaikan bersama. Kalaupun kita bisa men-copy paste format politik teokrasi di Iran, yang bertumpu para ketaatan pada Imam serta kebaikan moral, kita belum tentu bisa seperti mereka. Justru, dalil agama akan dijadikan alat mudah untuk mengendalikan dan memanipulasi massa. Seperti yang sudah sering terjadi di Indonesia. 

Referensi:

Afary, Janet. 2026. Iranian Revolution. britannica.com. www.britannica.com/event/Iranian-Revolution . Diakses pada 19 Mei 2026. 

Downs, Garret. 2026. Trumps Warns Iran to “Get Moving”. Or  ‘there won’t be anything left’. https://www.cnbc.com/2026/05/17/trump-warns-iran-wont-be-anything-left.html. Diakses pada 17 Mei 2026. 

Batmanghelidj, Esfandyar. 2020. Iran under sanctions. Washington DC. School of Advanced International Studies. John Hopkins University. 

Apa yang membuat Iran Tangguh Meski di Embargo.  Tempo. 2025. https://www.tempo.co/internasional/apa-yang-membuat-iran-tangguh-meski-diembargo-puluhan-tahun–1805358